Batu Bacan

Kebanyakan orang tidak tau awalnya proses batu bacan.
Suatu hari saya pernah ke rawabening, Jakarta Gems Center (JGC); di sana saya melihat beberapa orang yang sedang melihat/ mengamati bongkahan bacan yang masih proses. Mereka adalah orang-orang yang berpengalaman dalam hal batu bacan (menurut orang2 di sekitar JGC); usia mereka ada yang masih muda hingga tua. Mengenai bongkahan itu mereka berkata, “Batu ini adalah mengandung logam, tidak bisa sama sekali “. (maksudnya nilainya batu tidak dapat dibeli).Karena itu, saya terheran melihat mereka dan bingung juga; Saya tau bahwa Batu bacan ini mengandung unsur logam, yaitu besi, mangan, dan tembaga.  Tanpa unsur unsur itu, tidak mungkin terjadi batu bacan. Ada logam pekat dan ada logam tidak pekat. Kalau logam pekat memang bisa jadi bacan proses. Kalau menjadi bacan proses akan lama waktunya. Sedangkan batu bacan yang logamnya tidak pekat; ada proses  yang lama  dan proses yang cepat.

Berdasarkan pengalaman saya, orang Taiwan dan Korea sudah membeli batu bacan proses yang masih hitam. Batu bacan proses yang dibeli mereka adalah warna hitamnya mengkilat (berminyak) dan dagingnya halus. Saya juga pernah membeli dan menyimpan batu-batu proses tersebut; hitam pekat (disenter aja belum tembus/tidak ada sinar). Saya menyimpan hampir setahun, kemudian saya periksa disenter sudah ada sinar yang masuk. Batu itu warnanya kehijauan campur kebiruan tapi hasil akhirnya menjadi warna hijau cincau. Batu itu sangat keras. Saya melihat, kalau di JGC, rawabening hanya batu yang sudah jadi yang dapat berharga nilainya. Saya paham, mereka ingin cepat batu bacan menjadi uang. Sedangkan pembeli Taiwan/ Korea berani membayar  batu bacan hitam dengan harga yang cukup memuaskan. Kebanyakan orang dari Bacan sudah jarang membawa batu bacan ke JAKARTA karena  banyak orang Taiwan/ Korea  atau pembeli dari JAKARTA/ BANDUNG/ SURABAYA yang datang langsung ke BACAN  dan ada bongkahan di atas 20 kg; mereka ditelepon dan dikirim gambarnya; mereka langsung turun ke Ternate dan Bacan.

Saya pernah bertanya kepada pembeli-pembeli lokal yang pernah menjual batu bacan di Jakarta, “Kalau di Jakarta dipersulit dan mau harga batu bacan murah/ di bawah”. Selain itu biaya transportasi dan akomadasi Ternate-Jakarta sangat besar. Sehingga lebih baik mereka menjual ke pembeli luar negeri; berani bayar dengan harga tinggi dan tidak banyak neko-neko. Kalau cocok, langsung bayar saat itu juga”. Karena itulah, mereka menunggu pembeli yang datang ke daerah mereka sendiri (Ternate/ Bacan).Saya sarankan kepada pembeli batu bacan Indonesia di JAKARTA atau kota besar lainnya, supaya hargai kekayaan bangsa sendiri (nilai batu bacan) ; Anda mau SUPER ONE tapi kok MAU MURAH? Barang yang kualitasnya BAGUS maka HARGANYA juga BAGUS.

Orang luar negeri saja (Taiwan/ Korea) hargai nilai batu bacan, mereka berani bayar harga untuk turun di medan yang berat karena pulau kasiruta (desa doko dan desa bisori) tidak ada hotel, rumah makan atau penginapan. Dari situ saja kita bisa lihat bahwa Sungguh Berharga Nilainya Batu Bacan itu.

Posted in: