Berawal dari coba – coba ,Koebil hasilkan 2 juta per Hari

JAKARTA – Siapa sangka usaha batu permata yang berawal dari iseng-iseng ini bisa menghasilkan omzet penjualan Rp 2 juta per hari. Tapi begitulah yang lakoni koebil yang mempunyai usaha batu permata bernama iwak gemstone yang berdomisili di Cengkareng, Jakarta Barat ini.

Koebil menjelaskan dalam usaha batu permata yang dikelolanya sejak tahun 2012 ini dimulai dari keisengan, alias coba-coba meneruskan usaha orang tua. Orang tua Koebil sendiri sudah lama bergelut di bisnis batu permata ini.

“Iseng-iseng saja, awalnya saya tidak berminat. Selanjutnya tanpa saya larut dalam usaha ini saja,” ungkap Koebil kepada wartawan saat wawancara di Lapaknya lantai satu Grand Cakung, Jakarta akhir pekan lalu.

Meneruskan keisengannya, lama- lama Koebil mulai tertarik karena untung yang dia peroleh juga lumayan banyak. Sekarang ini, omzet usaha batu permata Koebil mencapai Rp2 juta per hari.

“Kesehariannya kadang tidak dapat, kadang dapat sejuta rupiah. Maksimal sehari Rp2 juta. Kadang faktor kapasitas barang yang saya miliki juga,” tambahnya.

Walaupun usahanya ini dinilai main-main namun menghasilkan, tapi dia mengaku selama menjalani usaha ini dia tidak pernah mengalami kerugian atau kesusahaan dalam usahanya. Namun ketika ditanya tips dan triknya, pemuda ini hanya tersenyum. “Ga pernah jatuh, ga pernah rugi. Lancar terus usahanya karena kita juga menjual secara online melalui jejaring sosial dan juga website,” imbuhnya.Untuk mendapatkan bahan batu permatanya sendiri dia mengaku mendapatkannya dari luar negeri. Karena, menurut dia tambang batu permata ini di Indonesia agak susah. Namun hasilnya nanti juga sebagian dijual ke luar negeri. “Memang sebagian batu dapatnya di luar negeri, nanti dari sini dijual ke luar negeri,” tambahnya.

Dia menjelaskan untuk tambang batu Nusantara ini sendiri yang paling bagus dan berharga tinggi adalah Batu Bacan,Garut,Sungai Dareh,Kadet ,Giok Aceh ” ungkap dia.

Untuk harga sendiri, dia mengaku juga bermacam macam tergantung jenis dari batu permata itu sendiri. Ada yang kualitas bagus yang langka, dan ada juga batu permata yang biasa. “Harganya Rp50 ribu sampai Rp1.5 juta,” jelasnya.

Untuk persaingan penjualan batu permata ini sendiri, Koebil menjelaskan untuk sekarang ini agak masih sedikit persaingan. Tapi kata Koebil ini mengaku senang jika semakin banyak persaingan.

“Persaingannya yah begitu, justru saya semakin banyak persaingan saya senang, ada komunitas, konsumen bisa milih. Tapi mungkin repotnya di harga ya,” jelasnya.

Terakhir Koebil menjelaskan sedikit cara kerja dia membuat batu permata ini. Pertama-tama batu permata ini dipoles, dibuat rangka, lalu dibuat perhiasan. Koebil mengaku melakukan semua ini sendiri saja. “Dipoles ulang, dibuat rangka, dibuat perhiasan. Perhiasan bisa dari bahan baku emas, perak, stainless, tergantung segmen pasar kita,” tutupnya. (wdi)

Posted in: